Sahabat yang Tepat

(Mazmur 13:2-6) Daud merasa dirinya dilupakan oleh Tuhan. Tuhan sudah seperti tidak peduli lagi terhadap dirinya. Daud sudah mulai kehabisan kesabarannya karena menurutnya Tuhan terlalu lama mengabaikan dirinya. Daud merasa sendiri dan menderita. Ia merasa sedih dan merasa rendah. Ia merasa dipojokkan oleh musuh-musuhnya yang sombong, yang angkuh, dan penindas. Keadaan seperti ini membuat Daud merasa khawatir karena tak seorang pun datang menolongnya. Ia memohon agar Tuhan berhenti mengacuhkannya. Ia memohon agar Tuhan datang menolongnya. Namun pada akhirnya, Daud tetap percaya dan beriman bahwa sekalipun baginya Tuhan menyembunyikan wajahNya, Tuhan adalah setia dan penuh belas kasih. Ia mau tetap bersorak-sorai dan menyanyi untuk Tuhan—seberapa perih dan sakit penderitaan yang ia alami.

Seperti Dauh, saya pun pernah mengalami hal yang dialami Dauh. Saya pernah dikhianati oleh teman. Awalnya ia teman saya, tapi karena ia telah menjadi pengkhianat, ia kemudian menjadi bukan teman. Pengkhianat di sini bukanlah pengkhianat seperti di zaman kemerdekaan. Itu terlalu berlebihan. Ia—si pengkhianat—menggunakan kebaikan saya padanya. Saya sudah percaya padanya, sehingga saya banyak bercerita tentang hidup saya, pengalaman dan informasi penting yang sudah saya dapatkan. Tetapi ternyata cerita-cerita saya itu dimanfaatkan untuk keuntungannya. Hingga suatu saat saya tahu dari seseorang tentang tindakannya yang membuat saya tersentak. “Dia telah memanfaatkan ketulusan hati saya!!”

Seorang pendeta dan seorang teman saya yang lain pernah berkata, “Jangan pernah mempercayai orang hingga seratus persen. Percaya sih percaya sama orang, tetapi untuk hal-hal tertentu saja. Hanya Tuhan yang bisa dipercaya seratus persen!” Lalu teman saya itu menambahkan bahwa Simon Petrus dan Yudas Iskariot, murid-murid Tuhan Yesus pun pernah mengkhianati Yesus. Petrus menyangkal Yesus tiga kali sebelum ayam berkokok. Yudas menjual Yesus demi tigapuluh keping perak. Begitulah, murid terbaik Yesus sekalipun mengkhianati Yesus, apalagi orang-orang biasa seperti teman-teman saya, mereka sangat mungkin untuk menjadi pengkhianat sekalipun situasilah yang membuat mereka menjadi pengkhianat.

Sungguh, ditinggalkan teman di saat kita butuh, itu sangat menyakitkan. Ditikam dari belakang rasanya juga sangat sial dan bikin geram. “Tega-teganya dirimu padaku, Teman.” Tetapi di dalam hati saya berkata, “Tidak apa-apa. Yang penting aku cukup tahu orang semacam apa dirimu.”

Akhirnya kami tetap berteman, tetapi hanya teman biasa. Hal-hal yang biasa pulalah yang saya bicarakan dengannya—itu pun jika ia yang mengajak saya bicara duluan. Sampai saat ini ia tidak tahu bahwa saya tahu dari seseorang tentang keburukannya. Lagi pula untuk apa saya sampaikan, nanti malah tidak bisa berteman sama sekali. Yang penting saya bisa menjaga sikap terhadapnya dan semakin dekat dengan Tuhan—sahabat yang tepat!

2 thoughts on “Sahabat yang Tepat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s