Cantik Setelah Luluran. Ah Masa’?

Saya bermaksud buang air kecil. Tercium bau wangi. “Pasti ada yang baru saja mandi,” pikir saya. Kulit telapak kaki saya merasai sesuatu yang kasar. Otak saya bertanya, “Ini apa?” Mata saya menangkap semacam gulungan kecil-kecil seperti adonan tepung yang diputar-putardi lantai kamar mandi. Putih. Saya pikir itu belatung. Lalu saya coba usik dengan menyiramkan air di sekitarnya. Bergeming. Bola mata saya menyusuri lantai hingga ke sudut-sudut. Butiran (gulungan) itu ternyata sangat banyak. Tersebar di hampir seluruh lantai kamar mandi, bahkan di sekitar pispot. Lalu saya hubungkan butiran-butiran itu dengan wangi kamar mandi—juga dengan pengalaman saya. Hasilnya, seseorang baru saja selesai luluran di kamar mandi ini. Tapi mengapa ia membiarkan kamar mandi ini terbengkalai?

Mungkin ia menjadi bersih setelah luluran, tapi setelah ia membersihkan diri kamar mandi ini menjadi kotor oleh ampas/daki dari tubuhnya. Jangan-jangan ia tidaklah bersih setelah luluran—apalagi sebelum luluran. Kalaupun bersih dan kinclong: kulit licin, kencang, wangi, dan memesona, saya mempertanyakan integritasnya sebagai wanita kinclong (cantik/bersih) hahahaaa….

Kira-kira begini: gimana mo cantik, lha sehari-harinya nggak mencerminkan kecantikan diri kok? Uh, gemes dweh hihihiii…. [20/03/2010]

2 thoughts on “Cantik Setelah Luluran. Ah Masa’?

    • saya kurang paham, mas. karena itu buku udah jadul banget. dan saya kebetulan “nemu” di perpus sekolah 6 tahun lalu. semoga masih ada ya… karena mayan bagus sih untuk zaman ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s