Sang Guru oleh Gerson Poyk dari Pulau Rote

Secara tidak sengaja saya menemukan dan segera terkesan dengan sebuah (judul) buku: Sang Guru. saya cari tahu siapa penulisnya. Gerson Poyk. saya sangka ia seorang Eropa. ternyata orang Asia, tepatnya NTT, Indonesia. bertambah pula kesan yang saya dapatkan. hh, betapa saya cepat terkesan oleh hal-hal baru yang tak terduga sekaligus menyenangkan!

tidak butuh banyak waktu untuk mencerna isinya. alurnyapun maju dan longgar. kisahnya mudah betul dipahami. nama para tokoh mudah diingat: Irma, Frits, Ben (sang guru, tokoh utama), Sofia. bagaimana ia bercerita pun mengesankan dalam keringanan. lalu saya coba banding-bandingkan dengan Botchan karya Natsume Soseki–penulis dari  Jepang. senada, walaupun nama para tokoh dan setting agak sulit diingat. namun pada dasarnya hampir sama kesan yang saya dapat, selain Botchan mengulas sedikit masa kanak-kanaknya yang nakal dan ekstrem itu. sedikit dikecewakan dengan watak “nakal”nya di masa kanak menghilang pada usianya yang 23tahun.

saya bersorak ketika selesai membaca Botchan: its about me! dan saya melihat sisi kekanak-kanakan yang lemah dalam diri saya. saya merasa puas begitu selesai membaca Sang Guru: …. hanya itu. mungkin suatu saat nanti, saya dapat meriilkannya dalam kata-kata. untuk keduanya (setelah membaca keduanya): bangsa ini juga punya karya yang tidak kalah bagus dengan penulis luar yang dicap menyejarah dan disebut-sebut sebagai buku wajib bagi kalangan akademis.

hal baik lainnya, saya jadi penasaran dengan karya-karya lokal (khususnya yang lama-lama) yang mungkin sebenarnya bisa masuk kategori modern-klasik (karya lama yang masih booming hingga saat ini), namun oleh karena sesuatu dan lain hal, ia dibiarkan tertutup rapat di rak perpustakaan atau pasar loak selama berpuluh tahun. ya, Sang Guru yang saya pinjam dari perpustakaan sekolah dipinjam terkahir kali September 1986 (ketika saya berusia setahun 6 bulan), dan dipinjam lagi (saya) pada Maret 2010: sekitar 23 tahun 6 bulan kemudian. memang, ketika saya buka lembar pertama buku , baunya menancapkan kesan klasik di pikiran. tapi belum basi.[19/03/2010]

2 thoughts on “Sang Guru oleh Gerson Poyk dari Pulau Rote

  1. mengapa karya se-bagus itu kurangpopuler? barangkali petugas kritik sastra sedang tertidur pulas di sebuah lemari yang penuh anggur dan buah-buahan. mereka mabuk kekenyangan di sana. atau, sebenarnya buku itu telah banyak dibaca namun tidak dianggap sastra monumental (sastra yang menurut dosen saya sering ditafsirkan sebagai tonggak pada sebuah zaman dan didasari oleh peristiwa politik belaka)sehingga pembaca yang paling rakus terhadap karya sastra pun luput menangkap didihan semangat zaman pada karya itu. apa mau dikata, dosa kita semua jika karya bagus cuma ngumpet di pojok perpus

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s