Pengakuan dan Permintaan Maaf…

seorang teman tiba-tiba meng-SMS saya beberapa hari yang lalu. SMS itu muncul sekitar pukul 8 pagi di hari Minggu yang hangat dan tenang.

untuk teman yang tidak terlalu dekat, kehadiran SMS itu agak tidak disangka-sangka. ketika membaca siapa pengirimnya, benak saya cuma spontan berkata, “tumben!”

Lalu saya buka dengan rasa penasaran yang aneh. rupanya ia menanyakan apakah saya baik-baik saja setelah latihan (vokal grup) kemarin lusa. kejadian itu sudah terhitung lama terjadi–setidaknya buat saya. semakin aneh ketika orang yang tidak begitu dekat ini menanyakan hal itu seolah-olah menunjukkan perhatian yang ganjil (mencurigakan). lalu saya jawab bahwa memang pada saat itu hati saya gelisah. saya kan masih muda, bau kencur, dan tidak tahu banyak tentang musik–setidaknya tidak sebanyak dirinya dan teman yang satunya. sempat saya ingin membuat guyonan di dalamnya, tapi urung karena hati saya kok tidak nyaman. lalu saya hapus SMS yang sempat diketik tapi urung dikirim. saya ketik lagi SMS yang baru: tidak apa-apa, sir… memang saya sedang gelisah saja. takut menjadi orang sok tahu, padahal ada orang yang lebih tahu dan paham. 

lalu, datanglah lagi 2 SMS kirimannya yang berisi pengakuan bahwa saya berkata benar tentang perbaikan iringan musik dan nada dasar, dsb. cuma pada waktu itu ia merasa defense dan memang bahwa saya “tidak tahu apa-apa”. toh teman yang satunya lagi saja (yang memang lebih tahu) secara tidak langsung bilang begitu… so, ia punya dasar yang kuat untuk melakukan hal yang sama sekalipun itu salah… “i’m sorry…” begitu terusan SMS itu…

setelah membaca SMS itu: pertama, saya merasa “senang” karena lagi-lagi insting/intuisi saya benar. bahwa ada sesuatu yang kurang beres dan membuat saya tidak nyaman pada saat itu. tapi segera saya acuhkan karena tidak berguna dan saya percaya jawabannya akan datang dengan sendirinya. kedua, saya merasa sedih karena saya sudah menganggap dan menyampaikan padanya bahwa ia adalah partner buat saya. dengan pengakuannya yang berharga ini, saya dapat pelajaran baru bahwa orang punya definisi yang berbeda tentang satu hal. dan siapa pun bisa tergelincir oleh kesombongannya… saya tidak sedang menge-judge beliau atas perbuatannya. saya harap ia pun belajar sesuatu dari ini semua sehingga hal ini tidak menjadi sia-sia. ketiga, out of record heheheee…😀

endingnya, saya cuma bilang: saya memaafkan kamu…

well, saya yakin pelajaran berharga didapatkan tidak dengan cara yang mudah. dan buat saya, ini adalah pelajaran yang sangat berharga… hhff, leganya!!😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s