bangun pagi…

Pernah ga lu bangun dengan satu kebencian di hati lu. Dan itu membuat lu semakin sebal karena pagi hari yang hanya sekali seminggu lu dapetin (bisa bangun siang karena hari-hari lainnya kudu bangun pagi atas tuntutan pekerjaan) terganggu oleh seseorang yang tinggal di sebelah kamar lu?

Mengapa begitu sulit mendapat pengertian dari orang yang juga mengaku merasakan hal yang sama? Atau jagnan-jangan pengertian itu hanya di mulut saja?

Gw belum pernah melihat egois yang seperti ini. “Selama gw nyaman—orang lain enggak, masa bodoh?!” atau yang semacam ini, “Selama gw masih pinjem barang itu ddari orang lain—sekalipun gw sanggup membelinya, dan tidak penduli apakah orang itu merasa tidak nyaman, yang penting gw bisa saving money; saving my own financial without any cares to somebody’s comforts.”

What kind of life is it?!

Semakin ke sini, semakin banyak ketidakadilan yang gw lihat dan yang gw alami. Dan itu semakin perih ketika tak ada yang bisa gw ajak berbagi dan bertukar pikiran. Orang yang gw ajak bertukar pikiran, entah kebetulan, adalah pelaku ketidakadilan itu sendiri. Bagaimana mungkin gw berkata-kata tentang seseorang kepada seseorang yang sama?

Anyway, I need a partner. But there’s none!

Orang-orang pengen show off! Dan gw adalah korban ke-show off-an mereka. Gw yang bekerja keras, seseorang yang lain mengagung-agungkan dirinya—tanpa usaha selain nyerocos di dalam forum. Gw yang bekerja, dia yang mengangkat dirinya sebagai pahlawan yang menjadikan kegiatan ini berlangsung dengan sukses. Sukses pantat lu! Tapi ketika masalah muncul, dia datag ke gw minta pertolongan. Ketika pertolongan tiba, ia kembali menjadi si kuat yang berhasil atas usahanya sendiri.

Poinnya bukanlah di beri “respek” pada orang lain, tapi keangkuhan. Gw ga suka sama orang yang angkuh. Jangankan orang lain, kalau gw sudah mulai menjadi orang angkuh, gw bisa jadi tidak suka sama diri gw sendiri. Dan biasanya, gw mengambil waktu untuk merefleksi diri. Jika diri gw menjadi angkuh, ada cahaya yang meredup dalam diri gw. Dan itu perlu dinyalakan dengan bercermin pada masa lalu dan memohon pertolongan Tuhan.

Gw heran, kenapa Tuhan/Yesus bisa begitu sabar melihat ketidakadilan yang terjadi di sepanjang hidupnya? Apakah karena dirinya tahu bahwa Bapa sudah menyiapkan pembalasan? Padahal pembalasan itu adalah pengampunan—pengampunan di mana diri Yesuslah yang dijadikan korban sembelihan. Atau karena dirinya tahu bahwa ia akan mati juga. Dan kematian itu berupah surga?!

Membaca Just Like Jesus karya Max Lucado, gw menangkap bahwa Yesus sendiri sudah mengalami ketidakadilan yang terparah—yang mungkin hanya dialah yang pernah mengalaminya, maka manusia yang merasa dirinya sudah mengalami penderitaan yang paling, paling, paliiiing menyakitkan bisa melihat kepada Yesus yang sudah lebih dulu mengalami kegetiran hidup, dan ia menang atas itu semua.

So, what should I do?

Looking toward Jesus?

Just Like Jesus?

Being like Jesus?

Hard sometimes…. I need some partners to support me. Just Like Jesus.

2 thoughts on “bangun pagi…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s