PADA SIAPA LAGI GW CERITA??

          Pagi ini gw terbangun oleh musik kencang dari kamar sebelah. Hip hop. Lalu si pemilik kamar membuka kunci pintu dengan kasar. Getarannya merembes ke kamar gw melalui dinding kamar; mempertegas suaranya dan memompa detak jantung gw kian jadi.

          Mata gw terbuka seperti orang terjaga dari mimpi buruk (dan memang semalam gw mimpi buruk/aneh semalam: ada ular berupa rangkaian tulang belakang mematok gw). Gendang telinga gw bisa menangkap bunyi detak jantung yang tidak beraturan. Badan gw pun terasa memanas—di luar masih mendung sisa hujan semalam.

          Setelah agak lama guling-gulingan di kasur sambil berharap pemilik kamar sebelah mengecilkan suara musiknya atau mengunci pintunya kembali sehingga suara musiknya dapat ditahan oleh kayu—pintu—walopun hanya sebagian.

          Gw butuh istirahat. Minimal, gw mau bangun siang karena semalam terlalu capek harus menemani seorang kawan yang baru datang dari luar kota dan meminta untuk ditemani makan malam—hingga pukul 12 malem. Pada hari yang sama, gw mengerjakan pekerjaan rumah yang cukup rumit dan banyak.

          Jadi, tolong beri tubuh gw kesempatan untuk beristirahat sejenak—untuk bangun lebih siang dari hari-hari sebelumnya.

          Berharap pada manusia memang hanya akan mendapatkan nol besar. Pintu kamarnya tidak ditutup lagi, dan volume musiknya pun tidak mengalami perubahan. Namun, judul lagu berganti—dengan jenis musik yang sama; bising untuk pagi hari yang dingin dan sunyi.

           Pada saat seperti inilah gw merasa, “Dia tidak peka dan tidak akan mengerti perasaan gw. Yang ada dalam pikirannya hanyalah dirinya dan uang!” Dengan demikian, bicara dengan orang seperti itu hanya mencari penyakit. Sia-sia. Lagipula, gw tidak tahu lagi bagaimana cara memberitahukan dia. Semua “semau gw”!!

          Hufff, sesek!

          Rencananya pagi ini kami mau gereja bareng. Lalu ada sms dari kepsek bahwa pagi ini kami akan pergi ngelayat karna orangtua dari salah satu rekan kerja kami meninggal (sang ibu pergi sekitar setengah duabelas malam).

          Temen sebelah bertanya apakah kami (aku dan dia) ikut. Emosiku memuncak. Selama ini dia selalu bertanya, tidak pernah memberi pernyataan/keputusan bahkan pernyataan/keputusan untuk dirinya sendiri: kalau aku ikut, dia ikut; kalau aku tidak ikut, dia tidak ikut. “Aku merasa diikuti, dibayang-bayangi, dihantui, diteror!!!” dan dia tidak pernah mengerti itu. Dia tidak pernah menyadari itu.

          Gw udah pernah dapet temen (bukan dapet sih, tu orang aja yang nyamper ke gw) yang seperti itu. Kalau temen yang dulu: memonopoli barang2 milik gw dan bahkan mengikis hak milik gw. Kalau temen yang sekarang: mengurung hak kebebasan gw! Tapi kalau dikasih tau, ngeyel!

          Lalu gw bilang, “Bilang iya aja.”

         “Kita berdua kan?”

         “Astaga!” pikir gw.

          Dan ketika dia mau bales, dia melihat ke gw seolah-olah mau bilang balas sendiri (masing-masing kami mendapatkan sms yang sama). Tanpa dia bertanya, gw jawab, “Gw kan lagi ga ada pulsa heeee…”

          Gw baca Stephen King On Writing dulu. Rencananya 15 menit aja. Tapi suara musik itu mengingatkan gw pada suasana bangun pagi tadi. Lalu gw ga bisa berkonsentrasi. Bad mood. Jadilah akhirnya gw tutup aja buku itu dengan perasaan sebal. Beberapa menit mengatur napas, lalu gw mandi dan bersiap-siap untuk memenuhi janji ketemu dengan temen2 yang lain jam 8.45 untuk ngelayat.

          Hingga 8.50, dia masih di kamar: dandan dan dengerin musik! Gw panggil sekali, tapi dengan suara kecil karena rasanya malas untuk manggil dia! Lalu gw beresin jemuran gw yang belum kering—beberapa hari ini mendung dan hujan melulu. Tidak lama, dia keluar dan bilang, “Udah selesai?!”

          “Iya, udah lewat tau.” Kata gw dengan nada sebiasa mungkin. Namun telinga gw sendiri bisa menangkap bahwa di dalam nada suara gw itu ada rasa geram. Dan rasanya dia tidak menangkap hal yang sama!

          “Udahlah, pasti pada telat mereka!” katanya lagi.

          “Yang penting kita dateng on time aja.”

          Dia diem aja…. Feeling gw, dia cuma menangkap bahwa gw sedang marah. Dia tidak menangkap bahwa gw kesel pada orang yang bikin gw jadi tidak on time. Lagi pula, hal semacam ini beberapa kali terjadi sbelumnya. Contoh yang paling sering: berangkat ke tempat kerja. Gara-gara nunggu dia, gw harus jalan cepet2…. Padahal, kalau gw berangkat lebih pagi, gw bisa jalan dengan santai dan menikmati pagi hari selama perjalanan. Menikmati orang-orang yang berkendara mengantar putra/putrinya ke sekolah… orang-orang menyeberangi jalan raya…. Mobil pribadi dan umum berpacu terkadang tidak menghargai pejalan kaki, dst….

          Tapi hal mudah itu menjadi terlalu sulit untuk dialami.

          “Gw udah ga tahan lagi.”

          Gw ga tau ke siapa gw cerita (detail) ini semua. Temen gw sudah pada pergi…. Gw sudah terbiasa berbagi dengan mereka karena kami sudah menemukan sisi kenyamanan dalam bercerita. Kepada beberapa teman, malah sebaliknya. Namun yang sebaliknya ataupun tidak, mereka semua seolah2 sudah pergi. Dan mungkin bagi mereka, temen2nya pun semua sudah pergi. Masing-masing memiliki jalannya. Setiap orang harus berjuang di jalannya itu.

          Well, sejak dulu gw terbiasa sendiri. Lalu banyak orang berkata bahwa sendiri itu tidak baik. Kemudian gw berteman. Ketika gw merasa memang sendiri itu tidak baik, teman2 itu pergi.

          Jadi, sendiri itulah yang terbaik bagiku. Selalu.

One thought on “PADA SIAPA LAGI GW CERITA??

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s