Tabib Kecil

dan akhirnya, hihii blom apa-apa udah “akhirnya”. mungkin itu karena gw pengen segalanya cepat berakhir, karena gw ga bisa mengakhirinya, cuy. cuuuuyyyy….

sampe di mana tadi? blom di mana-mana, ya? haa! ya ya ya, begini. akhirnya apa yang direncanakan kemaren (blog sebelumnya), ga terlaksana. pulang kantor gw malah makan dan ketemu desi buat ngasih CD n payung hitamnya. dari situ ke indomart, trus agak sedikit bergegas pulang. nyampe kosan, gw malah terinspirasi untuk ‘jamah-jamah’ kamar gw. memberi sedikit tambahan demi kepentingan dan kenyamanan diri di dalam kamar yang sempit itu.

gw ambil meja bercat putih dari ruang tamu berbau busuk itu. bau dan busuk karena tikus, kecoa, dan kucing sering buang yang bau-bau di situ, dan si tukang bersih2 agak malas angkat sofa buat ngepel lantai bekas kencing ato berak makhluk2 itu.  lalu tuh meja gw bersihin seadanya dan gw angkat ke kamar. dan gw taruh di kamar gw yang udah sempit itu. dan alhasil, dengan tambahan meja, kamar gw tambah sempit, tapi asyik, cuy. penglihatan gw agak terbantu dengan meja itu. barang-barang jadi terlihat teratur. kipas angin, speaker, buku-buku, kabel, dan barang2 kecil lainnya bisa diorganisasikan di meja itu. jadi terlihat simpel dan ringan. keuntungan yang paling gw kejar adalah bisa duduk di bangku palstik dan menulis di meja itu. selama ini gw duduk di lantai dan nulis di meja kecil.

setelah menyusun meja dan menyapu kamar, gw mandi. dan gw berpasrah diri pada kondisi tubuh yang merasa nyaman dan sedikit memohon agar dibiarkan rebahan dalam waktu yang lama. dan asli, malem itu, tubuh gw menyatu sama kasur. kyanya mereka udah saling kangen dan lagi melepas rindu satu sama lain. pengennya tu nempeeeeelllll terus. tapi diri gw bilang agar bikin kesepakatan aja biar ga ada yang merasa dirugikan. maka, gw kasih waktu rebahan untuk tubuh gw, lalu setelah itu segera kembali ke rencana awal untuk bikin konsep penulisan isi buku ‘Gangguan Sensomotorik’ tea.

tepat jam 10.40, gw ketiduran. tidur yang bener2 tidur. tapi sekitar jam 1 malem, ada yang nelpon. orang aneh dan sok oke. nyebelin. berkali-kali pula! tuh orang lagi horny kali? ato, klo mo positive thinking, dia lagi kesepian gitu. ato lagi mimpi buruk n pengen ditemenin/ngobrol. tapi, telpon dari orang aneh itu adalah mimpi buruk buat gw karena dia mengganggu tidur gw. gara-gara itu gw jadi pengen nelpon temen gw. tapi, dasar tukang molor temen gw itu, dia ga bangun2. dan gw ga mau bersikeras ngebangunin dia. ntar dia malah ngira gw yang jadi mimpi buruknya. haaa… ga abis2 deh orang jadi mimpi buruk bagi yang laen…

dan sosodara, di sinilah gw sekarang. kembali pada rutinitas pekerjaan yang monoton sekaligus membosankan (dengan ‘Don’t Worry Be Happy-nya Bobby McFerrin), tapi agak bikin penasaran gitu… dan rasa penasaran itu agaknya bisa jadi obat yang meluruhkan rasa jenuh. semacam tabib kecil gitu…. dan gw merasa ‘harus’ berterima kasih pada ‘rasa penasaran’ yang hadir di saat yang sedikit agak tepat. tabib yang memberikan pil untuk sedikit bangkit dari antara orang mati. halah!

biarin sedikit-sedikit bangkit. gpp. kya suluh di pantai. biar kelap-kelip (cahayanya kya bakal ilang, tapi ga ilang-ilang), tapi bisa jadi petunjuk bahwa jauh di ujung sana ada daratan, ada pelabuhan, ada kehidupan. dan harapan.

aih, harapan! gila, kata itu muncul juga. harapan? harapan, ya? rasanya gw masih asing sama kata itu. tapi semoga tabib kecil yang ga tau muncul di mana dan kapan itu, melakukan apa yang bisa dia lakukan, yang tepat!

dan sekarang, giliran gw untuk melakukan sesuatu. yaitu bekerja. do what i can (have to) do….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s