Pertemuan Semu

waiting

Perempuan itu duduk manis di bangku sebuah halte yang atapnya agak mencong ke kiri karena diterpa angin kencang beberapa waktu lalu. Langit agak mendung seolah menyisakan cuaca buruk, seolah mengancam bahwa ia sewaktu-waktu dapat melayangkan tamparan untuk merubuhkan atap halte itu sepenuhnya.

Wajah perempuan itu cerah. Agak mulus, walau di beberapa bagian terlihat kulit ari sedang mengelupas. Di beberapa tempat ada bintik-bintik hitam bekas hunjaman sinar UV. Dua jerawat berjejer di atas alis kirinya. Dan sebuah tahi lalat di ujung bibirnya yang penuh dan merah natural.

Ia menoleh ke kiri; agak lama seperti mencari sesuatu di kejauhan. Lalu ia melirik jam tangannya, kemudian melirik ke tempat semula. Barulah ia memalingkan wajahnya ke sebelah kanan. Rambutnya jatuh dari bahu mengenai bagian atas dadanya yang bersampul katun: kemeja hijau tua bersaku satu di dada kiri.

Diambilnya sebuah buku dari dalam tas sampingnya. Buku itu cukup tebal. Mungkin 500 atau 700 halaman. Dibukanya tepat di mana terakhir ia membaca; ia sudah hampir menyelesaikan buku itu rupanya.

Lima halaman pertama ia masih terlihat menikmati buku itu. Tak lama sesudah itu, wajahnya sesekali mulai terangkat untuk kemudian menoleh ke kiri dan kanan. Beberapa waktu berselang, sikap semacam itu disertai tarikan nafas seakan dipaksa menyerah namun ia menolak.

Punggungnya yang tadi tegak sekarang mengendur. Bukunya tak lagi ia begitu pedulikan karena matanya gelisah mencari-cari sesuatu—entah seseorang yang sedang dinanti—di sekitarnya. Tapi tak seorang pun di sana.

Ditutupnya buku itu dengan agak kasar hingga menyisakan bunyi buk.

“Menunggu terus. Sabar terus.” Kata-katanya ia akhiri dengan helaan napas panjang. Buku itu ia selipkan di antara buku di dalam tasnya. Dirapikannya roknya yang sempat terangkat angin hingga lututnya terlihat. Ada luka bekas jatuh di situ. Tanpa merapikan rambut dan kemeja hijau tuanya yang manis, ia angkat kaki dari halte yang atapnya agak mencong ke kiri.

Ia menoleh lagi ke kiri—agak lama, lalu ke kanan. Dengan sebuah senyuman ringan untuk dirinya sendiri, ia pun berkata pada dirinya sendiri, “Mungkin tidak di sini kami akan bertemu.” Berangkatlah ia pulang untuk meneruskan perjalanan baru esok harinya.

6 thoughts on “Pertemuan Semu

  1. hi..salam kenal…boleh pinjam gambarnya untuk artikel postingan di blog ku?? kebetulan aku sedang menulis tentang “menunggu” juga loh..what a coincidence…

    tampubolon ya?? aku pasaribu. sama-sama orang batak deh kita..he3x..

    GBU..
    http://www.denioktora.com

  2. iya, silakan…. grab aja gambarnya… tapi tulisannya udah dibaca kan hehee… thx udah buka bukabukaan.wordpress.com-ku…🙂

  3. astaga! saya pernah menulis ini ya??
    saya lupa bagaimana perasaan saya sewaktu menulis ini, tapi ketika membaca ulangnya sekarang, hati saya sedih. “akukah yang sedang dibicarakan di sana?”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s