Dada Si Biru yang Sempat Ungu

Saat aku sedang makan soto ayam yang ada di depan kantorku, malam-malam sekitar jam tujuh, aku melihat dua orang perempuan. Mereka melindungi kepala masing-masing dengan tangan dari hunjaman gerimis. Sambil berjalan agak perlahan, mereka bicara dan sesekali tertawa ringan.

Yang berbaju hijau mengingatkanku pada seorang kawan di bangku SMA dulu. Namanya Biru. Aku mencoba mengingat ulang orangnya. Dan aku betul-betul yakin sekarang. Namanya Biru. Yang paling kuingat dari dirinya adalah kebiasaannya memperhatikan dada orang, terutama dada perempuan. Dia sendiri adalah perempuan.

Kebiasaan itu muncul tanpa disengaja. Menurut ceritanya padaku dulu, semua itu bermula dari tinggi badannya yang kurang-lebih setinggi dada orang kebanyakan seusianya. 131 sentimeter. Saat pertama kali ia mengungkapkan kebiasaannya itu, tubuhku spontan sedikit mencekung ke dalam seolah melindungi dadaku dari sorotan matanya. Tanpa merespons sikapku, ia melanjutkan pembicaraan pada jenis dada yang selama ini ia amati. Awalnya, dada yang besar-besarlah yang teramati olehnya, barulah kemudian ia membanding-bandingkan dengan dada yang kecil.

“Sungguh, itu bukan keinginanku!”

Aku diam saja.

“Asal kau tahu, dada Mentay ternyata lebih besar sedikit dari dada Lisuy.”

Tadinya aku ingin protes karena setahuku dada Lisuylah yang paling besar di sekolah ini. Tapi urung. “Mengapa begitu?” Kataku akhirnya. Ternyata aku ingin tahu juga.

“Itu bukan urusanku. Itu urusan mereka dengan Tuhan. Yang kutahu dada Lisuy itu masih kecil. Besaran dada Mentay. Lebih matang.” Katanya dingin seolah-olah topik pembicaraan ini sesuatu yang biasa. Sebiasa pembicaraan tentang harga semangka di pasaran.

“Untuk apa kau memperhatikan dada orang?”

“Tidak untuk apa-apa. Hanya, aku terpaksa memperhatikan itu. Awalnya aku risih sendiri. Tapi bagaimana lagi. Keadaanku yang memaksaku begitu. Aku harus melihat lurus, tepat ke dada banyak orang yang berpapasan denganku. Aku capek mendongak melulu melihat muka orang yang lebih tinggi. Menunduk, aku tidak mau. Tinggiku yang jauh di bawah orang kebanyakan saja sudah cukup merendahkan diriku. Kalau aku berjalan sambil tengok kiri-kanan, nanti dikira sakit leher.” Ia tertawa agak terpaksa. Lalu segera mulutnya merapat.

Semakin dua perempuan itu berjalan mendekati warung tenda pecel lele tempat aku makan, wajah perempuan berbaju hijau itu kian jelas. Ternyata ia bukan Biru. Dan, ya, kedua dadanya membekas di permukaan baju hijaunya yang mungkin bertitik-titik oleh air hujan.

Mereka melewati warung tenda tempatku makan; mereka mulai tak terlihat.

Kulanjutkan makanku. Berlanjut pula imajinasiku pada Biru dan dadanya yang hilang sebelah tiga tahun lalu di atas meja operasi.

Hh, Biru dan dadanya yang sempat ungu!

3 thoughts on “Dada Si Biru yang Sempat Ungu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s