Naskah Buruk dan Chief Editor

Beginilah dampak naskah yang dipilih oleh chief editor yang buruk seleranya, yaitu editor yang gagap menuangkan isi pikirannya karena kering jiwa dan wawasannya.

“Persetan dengan sudah berapa lama ia menjabat sebagai editor!”

Ia memilih naskah seperti sembarang. Tidak memikirkan dampaknya terhadap perusahaan yang notabene sedang berusaha mengangkat tubuhnya dari keterpurukan (nyaris bangkrut). Konon, “Setiap orang bisa korupsi. Tak terkecuali editor. Editor kan orang juga.”

Sebuah buku tidak dicetak seratus-dua ratus eksemplar. Minimal dan idealnya 3000 eksemplar (begitu yang sampai sekarang saya ketahui). Biaya cetak untuk menghasilkan jumlah segitu, tidaklah sedikit. Belum lagi tenaga “percuma” tiga editor, 3 setter, dan seorang desainer (termasuk otak-otak yang musti menghitung detail biaya produksi dan mencari percetakan murah meriah) untuk mengusahakan sebuah buku buruk yang pasarannya, yah, paling banter akan dibeli oleh orang-orang terdekat si penulis. Kasarnya, “Dikasih gratis pun, orang belum tentu mau!”

Buku tersebut belum tentu mendatangkan kepuasan pribadi bagi orang-orang yang terlibat dalam pembuatan buku buruk tersebut. Mengapa? Karena—asumsi saya—penjualannya jauh di bawah harapan, tidak banyak orang yang membicarakannya, atau malah—paling parah—tak kedengaran suaranya sama sekali, bahkan di mulut para editor yang terlibat di situ. Buku itu hilang dari udara karena ia telah mengendap di gudang percetakan dan berselimut debu. Ia tertidur dan tidak akan pernah bangun, kecuali oleh nyala api (dibakar) atau oleh event besar yang memaksa sang penerbitan memberikan diskon besar-besaran hingga harga si buku menjadi ribuan saja (minimal untuk balikin modallah). Ya, bisa dikatakan buku itu memang layak dihargai segitu saja, maka pantaslah banyak yang beli. Jadi, kalau telanjur belipun dan ternyata bukunya jelek, secara finansial ngga rugi-rugi amat. Toh bisa untuk menuh-menuhin rak dinding.

Atau jangan-jangan ada keadaan yang lebih dramatis. Sudah didiskon gede-gedean sekalipun, orang-orang masih ogah! “Ya iya laa… dikasih gratis aja orang belum tentu mau kok!” 🙂 Ya ampun, jangan ampe segini parahnya deh…. So, pembaca pun belum tentu mendapatkan kepuasan. Bagaimana mungkin akan terjadi the positivity of issue from mouth to mouth (?).

Nyebelinnya lagi, bila chief editor tidak menerima masukan dari editor lainnya. Atau, si editor tidak menyampaikan isi pikirannya kepada si chief editor alias ngomong di belakang. Kalau ini terjadi, perlu dipertanyakan, mengapa itu bisa terjadi. Si editor yang pengecut, atau si chief editornya yang kertelaluan (kolot dan keras kepala). Sebenernya diskusi berpanjangan antara sesama editor dapat diminimalisasi dan kerjaan bisa dipangkas, itu kalau si chief editor tahu seperti apa itu naskah bagus, dia ngerti pasar, dan dia disiplin. Minimal, disiplin ngantor deh (Nah iki…, iki ngomongin diri sendiri namanya! :p)

Lalu muncul bagian promosi yang pintar memasarkan buku dengan taktik-taktik tertentu. Dasar pasar zaman sekarang ngga bego-bego amat dan persaingan semakin ketat, malah si promotor yang dibego-begoin pasar. Biaya udah segede bagong dikerahkan, tapi hasilnya segede jigong hahaha….

Editor sendiri, bisa jadi selagi mengerjakan naskah buruk, bawaannya malas dan kepingin ngorok di meja, di depan monitor atau di atas keyboard. Ketika ngerjain naskah bagus, eh, malah keenakan baca (sibuk sama ide tulisan) dan melupakan pekerjaannya yang sebenarnya: mengedit.

Kembali pada chief editor yang terhitung ceroboh oleh kebodohannya sendiri; mereka pun perlu diseminarkan, persis seperti editor lainnya. Perlu ada tukar pikiran dan membuka pikiran. Berkepala dingin dan bersikap sama duduk sama tinggi. Ya, syukur-syukur bisa membuka hati dengan sikap damai, bukan defense.

ps. Jika Anda merasa disindir atau tersindir, percayalah bahwa itu pertanda baik 🙂

2 thoughts on “Naskah Buruk dan Chief Editor

  1. Dodol atau gak seorang Chief Editor, kriterianya apa saja? Kalau dari tulisanmu, sepertinya cuma pasar yang menjadi penilai jujur atas keampuhan seorang chief editor. Laris=Bagus, Jeblok di Pasar = Buruk. Jangan-jangan ada kriteria lain.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s