|KONFLiK|

“konflik adalah benturan kepentingan,” begitu kata pdt. essy eisen bet, pengkhotbah di pagi awal minggu kerja BPK Gunung Mulia. setiap orang memiliki dan memperjuangkan kepentingannya masing-masing. ada tiga cara untuk mengatasi benturan kepentingan. dua di antaranya tidak ideal (menurut essy), sisanya ideal.

pertama, membangun tembok atau benteng (cara kuno), seperti yang disimbolkan oleh tembok berlin dan tembok besar cina, yang sekarang justru diruntuhkan karena cara tersebut justru menimbulkan konflik baru.

kedua, membangun jembatan. kalau yang pertama terjadi sikap membatasi diri dan menutup diri, maka yang kedua ini mencari jalan tengah. ini sama tidak idealnya dengan yang kedua karena solusi yang diambil (mediasi) sering mendatangkan perasaan dongkol dalam diri pihak-pihak yang bermediasi.

ketiga, pengampunan di dalam kasih Tuhan. inilah jalan terbaik dan ideal. dan menurut gw, yang cukup sulit, namun tidak berarti tidak mungkin!🙂 malah ini jadi semacam tantangan yang pantas untuk ditaklukan! apalagi di masa-masa sekarang, yaitu masa-masa hidup gw yang tersendat-sendat dan tergopoh-gopoh… hingga gw merasa Tuhan sedang ‘ngediemin’ gw…😦

namun, tak lepas dari itu, timbul pertanyaan. ketika seseorang memberi pengampunan, maka kepentingan pribadinya disingkirkan-oleh dirinya sendiri. maksud gw, konflik akan terhindarkan jika salah satu kubu menyingsingkan kepentingannya dan memberi pengampunan kepada kubu yang sedang memperjuangkan kepentingannya. bisa pula berarti bahwa seseorang mempersilakan bahkan memberi ‘kubu lawan’ jalan yang lapang.bentar, ada sesuatu di kepala gw: pengampunan bukan berarti menghindari konflik. pengampunan bukan berarti sedang menjadi pengecut. pengampunan bukan pula berarti menekan eksistesi diri pribadi. justru dengan mengampuni (si pemberi pengampunan menjadi SUBJEK AKTIF) seseorang menjadi Ada (eksis, Beauvoir). otomatis (tanpa sengaja, nilai plus bagi SUBJEK AKTIF) orang yang memperoleh pengampunan menjadi tidak eksis. yah, setidak-tidaknya ia menjadi SUBJEK PASIF…

memberi pengampunan memberikan ketenangan. pengampunan melegakan hati, menyehatkan tulang-tulang, dan memberi pancaran yang menyenangkan bagi orang lain, melalui wajah dan senyum kita. tring tring…🙂

perusahaan punya kepentingannya sendiri. gw juga punya kepentingan gw sendiri. dan mungkin dari sekian banyak list kepentingan tersebut, sedikit atau bahkan ga ada kepentingan yang sama atau yang bisa berjalan beriringan. contoh mudah aja, gw ga nyaman pake kemeja dan celana/rok bahan. tapi itu harus! kepentingan gw adalah untuk memberi kenyamanan pada tubuh gw sehingga gw bisa bekerja dengan baik. kepentingan perusahaan adalah untuk menjaga image perusahaan dan untuk menunjukkan bahwa ini adalah kantor, bukan rumah, bukan kampus (itu kata asst HRD. hehe….yah, ketauan deh :P)

sama juga halnya kya di kosan gw yang berisik itu. kepentingan gw adalah suasana tenang, sedangkan segerombolan penghuni lainnya kepentingannya adalah suasana yang rame dan cenderung hiruk-pikuk (dari sudut pandang gw). dan benar, timbul konflik. dan konflik ini rasa-rasanya mendatangkan kerugian terbesar justru terhadap gw. membentengi diri sendiri hanya akan bikin gw “terbakar amarah sendirian!” (ngutip omongan Pram). bikin jembatan, huh, belum tentu mereka mau bikin jembatan sama-sama dan dengan hati lapang. lagipula gw terhitung anak baru dan ga tau apa-apa. secara mereka penghuni lama dan udah akrab dari lantai satu dan dua. kemungkinannya, gw yang bakal diserang, mereka masa’ bodo. bisa juga: kesepakatan berlaku sementara, berikutnya sama saja. atau: siapa elu?! kalau ga suka, pindah aja!! hehe…. itu asumsi gw doank. tapi kondisinya memang cukup rumit dan bikin tekanan batin. langkah aman dan efektif adalah mengampuni mereka, “karena mereka ga tau apa yang mereka perbuat,” sehingga mereka ga tau dampak dari apa yang mereka perbuat bagi orang lain. so, gw bisa nyalain musik cukup kenceng. bisa menarik nafas panjang sambil membayangkan mereka dengan tersenyum dan memaafkan mereka, dan memeriksa diri gw sendiri. toh jangan-jangan gw pernah melakukan hal yang sama. misalnya, nyanyi kekencengan. mmm, tapi kyanya itu justru menghibur mereka hehe…. o atau. gw nyalain musik kenceng2 di jam tidur… hehe.. sori, ya… lain kali engga lagi deh.

duh jadi malu. gw pernah, sekali, nyalain musik via laptop rada kenceng. dasar manusia, pelupa! waktu itu gw lagi nonton DVD Micahel Buble, Live in Concert (Wltern LG Theatre, LA) yang baru gw beli dari Mangga Dua (bajakan bow!) saking antusiasnya, gw ga ngecilin volume. padahal waktu itu udah hampir jam sebelas malem. ga ada yang protes sih, tapi ketika liat jam, gw kaget sendiri. udah jam tidur rupanya! btw, durasinya sekitar 1,5 jam… lu kudu nonton Michael Buble!! suaranya benar2 berkelas. khas. dance-nya halus namun tegas.

balik ke |KONFLIK|. konflik pasti selalu ada, tapi bagaimana menghadapi dan berjibaku di dalamnya, itu yang jadi pe er kita (saya)…

ps: ga ada maksud menceramahi atau mendikte para pembaca, karena sebenernya gw sedang mengingatkan diri gw sendiri. syukur2 bisa jadi reminder yang baik pula bagi pembaca🙂

5 thoughts on “|KONFLiK|

  1. konflik itu nyawanya hidup…
    cerpen ga ada konfliknya, ga rame
    teater ga ada konfliknya, ga rame
    hidup juga ga ada konfliknya, ga rame…
    tul, ga? hehe

  2. dont giv’ up krn konflik itu seperti dukkha (jalan penderitaan)dalam agama Hindu. konflik akan terus ada dan selalu akan ada korban. Tugas kt adalh menyelmatkan korban tersebut, termasuk diri kt sendiri agar tdk terus berada dalam konflik. keluar dari konflik bukan berti kt bebas sama sekali dari konflik…keluar dari konflik berarti kt mau belajar dr konflik tersebut…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s