perempuan dan pengulangan

membaca dan akhirnya menuntaskan Sex Slaves (SS) karya Louise Brown (yang tadinya gw pikir seorang laki-laki, ternyata seorang perempuan) mengingatkan gw pada Wajah Telanjang Perempuan (WTP) karya Nawal el Saadawi. itu berarti sengaja tidak sengaja, ada kesamaan darikedua buku tersebut. tanpa bermaksud ‘mencari-cari’ kesamaan/kemiripannya, tercetuslah (seperti begitu saja) bahwa cara Louise dan Nawal memaparkan ide, cukup emosional. ini tergambar dari teks-teks/ide-ide yang ditulis berulang. ide yang sudah disebut-sebut di bagian awal tulisan; di bagian tengah dan bahkan hingga di bagian akhir disinggung-singgung lagi; pembaca (gw) hafal dan bosan ‘mendengarnya’. bahkan muak!

gw masih inget, adegan membaca WTP (waktu itu gw masih duduk di bangku kuliah semester 6-7 (2006-07)) adalah di Damri Bandung-Jatinangor. gw berdiri sambil dengerin musik lewat headphone gw yang gedenya segede bagong! kurang dari satu jam, gw bisa lahap lebih dari 100hlm (100 hlm terakhir). yang ingin gw katakan adalah bahwa teks itu seperti melihat sekilas aja, bukan membaca karena di awal buku, banyak yang sudah diungkapkan lalu diungkapkan lagi. contohnya gw udah ga inget persis. tapi kira-kira, Nawal ngomongin soal perempuan Mesir yang kehadirannya seperti tak diinginkan di dunia (patriarki). bahwa perempuan tidak berhak atas dirinya sendiri: tubuh dan pribadinya.

untuk SS, mumpung masih seger dalam ingatan, gw masih ingetlah contohnya. dia sering bilang bahwa permpuan muda, miskin, dan tidak berdaya adalah (calon) korban budak seks.

mungkin dan memang, penulis bermaksud memberi penegasan bahwa ‘apa yang diulang-ulang’ itu adalah inti/poin/pokok penting, yang perlu digaris-bawahi, yang harus diingat dan dicamkan oleh pembaca. namun pengulangan tersebut membuat apa yang diulang tadi, menjadi sebaliknya: tidak penting, terlalu banyak, umum, dan pantas dihiraukan.

contoh sehari-hari yang agak mengena menurut gw adalah ‘kecerewetan ibu’. “jangan merokok, pak.” “sudah dibilang jangan main tanah. kamu itu udah berapa kali sih ibu bilangin ga denger juga? tarok di mana sih kuping kamu itu?!” atau “bangun pagi kok susah betul. matahari udah tinggi. pantes miskin terus. kamunya pemalasan begitu. dari dulu dibilangin, masih aja begini. kapan sih kamu berubah, Jefry??”

semakin cerewet ibu (gw), semakin males kuping gw ngedengernya. secara otomatis, gendang telinga gw pun menolak mendengar dan atau meneruskannya ke otak gw untuk diproses. tapi, sekalinya nyokap ngomong dengan tenang dan tidak berulang, omongannya bakal gw (kita) inget sampe mati sekalipun. agak berlebihan memang, tapi begitulah adanya…

mungkin itu salah satu hal yang bikin gw ‘suka’ ngobrol sama cowok (dari sudut pandang patriarki-lapangan) yang didefinisi bertipe ‘ga banyak ngomong (tidak berulang2)’ dan ‘ngomong ga banyak embel2’, ketimbang cewek yang bertipe ‘gosiper’ dan ‘suka nambah-nambahin bumbu biar sedap’.

okelah. paragraf terakhir di atas, bisa dibilang NOTHING.

berhubung gw lagi datang bulan, gw jadi kepikiran (pas ganti di kamar mandi), bahwa datang bulan ini, ya datangnya setiap bulan. ato, kalo ga lancar setiap bulan pun, datengnya berulan. ga sekali trus berhenti. ya, kecuali ada kelainan biologis. maksud gw, jangan-jangan cewek mang digariskan dan mungkin sedikit dipaksa untuk bertekun dalam pengulangan. untuk senantiasa ada dalam pengulangan–bertekun ga bertekun, dia musti tetap ada di dalam pengulangan. dan selamanya tidak bisa keluar. dan pengulangan itu adalah lingkaran emosi.

gw juga inget tuh salah satu temen kantor gw cerita soal rumahnya di kampung pernah didatengi setan perempuan. dia cerita sampe tiga kali. dan untuk cerita yang keempat kalinya (sebelum dia nerusin), gw setop dengan bilang: “plis deh. lu udah ngomongin itu tiga kali. ga usah diceritain lagi.” trus dia jawab, “aku terlalu bersemangat!”

hihiii, begitulah…. semangat yang jumlahnya ‘terlalu’ itu gak dialihin ke hal lain, hal yang baru. tapi diputar-putar di situ. di satu tempat. maksud gw, kalau saja cerita/semangat itu ‘dinaikan’ ke akal sehatnya, atau ke kepalanya, tepatnya ke otaknya, mungkin akan lahir semacam perenungan yang kemudian mencetuskan pemikiran baru. itu yang juga sedang gw coba. dan ternyata, itu lebih seru dan lebih berguna…

tiba-tiba, gw kangen seseorang. kangen banged!!🙂

dan gw BLANK mo ngomong apa lagi dalam tulisan gw ini!!😛

ke mana ya gw alihin? ke otak/akal sehat/logika gw… wujudnya?

see, cewek itu sangat kompleks. bahkan kadang, sesama cewek sekali pun belum tentu dapat saling memahami perihal ‘kecewekan’ masing-masing hehe…

untuk PMS aja misalnya. tiap cewek punya gejala/derita yang belum tentu sama. ada yang payudara dan pinggulnya nyeri minta ampun. ada yang mules sampe muntah dan terbaring di ranjang hingga 3 hari. ada yang jadi sensitif tidak seperti biasanya: gampang tersinggung, cepet naik darah, dan jadi cengeng. ada juga yang jadi manja: pengen dibelai/disentuh sama lawan jenis (cowoknya). ada juga yang ‘mengimajinasikan’ hubungan seksual. tapi ada juga lho yang seperti tiba-tiba kecerdasannya meningkat, daya tangkap jadi tinggi, semangat penuh, vitalitas meningkat, dan hidupnya keliatan penuh warna. selain itu, ada juga yang jadi doyan makan dan bermalas-malasan di sofa. jelas, masih banyak ‘derita’ lainnya. kalopun sama-sama nyeri payudara, belum tentu nyerinya sama.

gitu deh cewek….

kok gw berasa ga jelas sih lagi ngomongin apa?


2 thoughts on “perempuan dan pengulangan

    • iya.. tadinya pake layout warna item, jadi warna kuning tuh jelas … trus dah ganti background jadi putih, ga ganti teks kuning itu… sekarang udah ganti nieh…
      met baca yaaaa….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s