Sex Slaves – Louise Brown

seorang temen, anak sejarah 2002 di kampus gw yang sekarang udah jadi dosen di kampus yang sama, sempet nyerocos soal Sex Slaves (salah satu buku bahan skripsi dia). bertepatan, skripsi gw juga ngebahas seputar kekerasan terhadap perempuan (usia remaja menjelang dewasa: 14 s.d. 20-an taun–semoga ga salah haha…). dia bicara banyak dan sangat mengagumkan–seperti biasanya–tentang Sex Slaves sebagai buku yang membuka wacananya hingga luas tentang perdagangan perempuan (untuk dijadikan pelacur di berbagai prostitusi) di kawasan Asia. waktu itu gw cuma manggut-manggut sambil menyimak omongannya. dari pembicaraan itu, gw tertarik dan berniat: suatu saat gw beli dan baca buku itu. memang, kekerasan terhadap perempuan yang gw bahas dalam skripsi gw adalah kekerasan terhadap perempuan lokal, tepatnya di sebuah ranah di minangkabau; bukan terhadap perempuan secara luas. namun ketertarikan gw terhadap wacana yang sedang temen gw paparkan/bentangkan, bikin gw bertekad untuk memiliki buku itu, isi dan materi.

akhirnya, gw beli juga tuh buku. gw belinya pas ada diskon besar-besaran di stand YOI pesta buku jakarta Juli 2008. dan baru sekarang (Oktober) gw baca. dan itu baru setengahnya hahaha…

hasilnya?

hendak mengawali proses baca, gw berliur pengen nyikat sekaligus isi tuh buku. tapi baru di bab pertama “PASAR”, gw sempet jadi males. bukan hanya karena cara penyampaian yang ga ngalir , tapi juga karena editan yang sembrono dan tidak teliti yang terlalu. dalam kata lain, kekecewaan itu bersumber dari dua pihak: penulis dan penerbit (editor). mungkin juga penerjemah!

namun demikian, ada beberapa hal yang dengan susah payah berhasil gw ambil (padahal simpulan2 ini sebenernya ga ‘wah’ hingga begitu susah payah untuk diracik, melainkan karena gaya tutur dan editan yang memurukkan, itu yang bikin pembaca harus kerja keras untuk memahami isi):

pertama, bahwa perempuan muda, polos, dan tidak berdaya adalah objek empuk untuk dijadikan calon pelacur, yaitu barang dagangan. tak lebih dari itu. mereka diperlakukan secara tidak manusiawi. mereka dibodoh-bodohi (padahal udah bodoh karena ga mendapat pendidikan, dan udah dinomorduakan–sejak mereka lahir–karena mereka adalah perempuan!), mereka ditipu, mereka dijerumuskan, dan dieksploitasi secara fisik dan mental. vagina mereka acap “dimasuki dan dikeluari” penis, berkali-kali, bahkan hingga para gadis meregang nyawa diranjang, sedang para pejantan asyik orgasme! jika lubang vagina mereka terlalu kecil–karena usia mereka ada yang baru duabelas tahun bahkan blom puber–maka dipakaian alat untuk memperlebar lubang vagina mereka agar penis yang besar dari seorang bahkan puluhan tentara (70 tentara) bisa masuk dan merasakan lubang vagina sang perawan. ya, sang perawan dihargai mahal. bahkan hingga 1660 pounsterling. tapi setelah itu, si gadis nyaris tak berharga lagi. ada juga yang bahkan ga dibayar sama sekali!

kedua, bahwa cewek2 vietnam dimasukkan ke golongan paling bawah. entah dari segi harga, kondisi fisik (termasuk keperawanan mereka), dan atau pelayanan. kedua cewek2 dari Thailand. dan yang tertinggi dipegang oleh cewek2 dari jepang! konsumennya macem2. mule dari kuli-nelayan hingga petinggi2 pemerintahan, dalam maupun luar negeri….

ketiga, pusat prostitusi di Asia Selatan adalah India (Mumbai). di Asia tenggara (bersifat internasional–pembaca) adalah di Thailand. dan nama tempat yang cukup sering disebut adalah Pattaya!

gitu dulu aja kali, ya… soalnya gw, secara tiba2, dihujani kerjaan… rrrrrrrr….😛

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s