menyangkut “Tuhan”

ada tiga kata yang buat gw gampang-gampang susah. mm, mungkin karena gw “ngegampangin” ketiga kata itu… kali! hehe… gw merasa udah paham apa definisi masing-masing kata tersebut. tapi ketika gw dihadapkan pada teks, apalagi dengan kemunculan berbagai istilah yang bersinggungan dengan ketiga kata tersebut, gw jadi ling-lung. buat gw kondisi macam begitu berhasil membuktikan bahwa gw blom punya pengertian yang tegas tentang masing-masing ketiga kata tersebut.

kemarin gw baca KOMPAS minggu (belinya hari minggu, tapi bacanya hari senin hehe), yang salah-satu artikelnya ngomongin paradoks bohong. di dalamnya nyinggung teis, ateis, dan agnostik. teis dan ateis, oke, gw cukup paham. bahkan gw merasa sangat paham apa arti kedua kata tersebut. tapi kemunculan “agnostik” dalam barisan teis dan ateis (yang berarti agnostik satu kelas dengan teis dan ateis) bikin gw kelimpungan dengan pemahanan gw selama ini tentang teis dan ateis.

lalu, bertanyalah gw sama Willem, salah satu temen kantor yang berlatar belakang pendidikan STT (STT Jakarta). berhubung dia ga mau menyulitkan gw dengan penjabarannya (mungkin maksudnya dia “takut” ngejelasin langsung karena bakal bikin gw tambah bingung), maka dia ngasih dua kamus  ke gw. satu Kamus Teologi (Gerald O’Collins & Edward G. Farrugia), satunya lagi Kamus Teologi Inggris-Ind (Henk ten Napel). inilah pengertian ketiga kata tersebut.

  1. teis(me): kepercayaan (mengakui) keberadaan Tuhan, Dia sebagai pribadi dan transenden, bahwa Tuhan adalah pencipta alam semesta dan segala isinya, dan bahwa Dia ada dekat (bersama-sama) secara pribadi dengan ciptaannya (manusia), yang menyatakan mukjizat.
  2. ateis(me): tidak mempercayai (mengakui) keberadaan Tuhan, baik DIa sebagai pribadi maupun transenden.
  3. agnostik: pandangan yang mengatakan bahwa manusia tidak dapat mengerti apa pun secara pasti mengenai Tuhan, dunia lain (dunia setelah kematian). istilah ini mencakup berbagai macam bentuk skeptisisme religius. (kalau penganut agnostik berarti orang-orang yang lagi bingung mencari/mendefinisi Tuhan–walaupun Tuhan ga perlu, bahkan ga bisa didefinisikan. tapi, mereka keukeuh pengen tahu Tuhan secara pasti. ini menurut gw, bukan menurut kedua kamus itu lho…)

mencari arti “teis(me)”, gw ketemu sama istilah deisme. yang artinya: percaya bahwa Tuhan itu ada, tapi bukan Dia sebagai pribadi (menolak mukjizat, menolak wahyu, dan menolak keterlibatan penyelenggaraan ilahi dalam alam dan sejarah manusia). selain itu, aliran ini tidak menyatakan langsung bahwa ‘mereka’ mengakui adanya Tuhan.

wah, thx banged, Wilem atas dua kamusnya. pikiran gw jadi kebuka bow….

btw, mungkin para pembaca udah pada tahu, atau mungkin paham betul apa arti (atau bahkan makna sesungguhnya) dari keempat kata di atas. fyi, gw di sini bukan bermaksud mengekspos atau mengajari para pembaca. ini sekadar memberitahu/menginfokan diri gw sendiri. selain itu, untuk “ngasih pelajaran” diri gw sendiri bahwa ada banyak kata dan mungkin juga ada banyak hal yang blom bisa gw mengerti dengan sungguh-sungguh. dan satu lagi, jangan terlalu percaya diri sama definisi yang dibikin sendiri hehe….

2 thoughts on “menyangkut “Tuhan”

  1. Koreksi kecil: Deisme mengakui keberadaan Tuhan. Namun, terlepas dari agama, Deisme tidak mengakui adanya keberadaan mukjizat atau bahwa Tuhan “butuh” agama untuk menjadi eksis. Deisme berlawanan dengan ateisme, malah mengakui keberadaan-Nya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s