Salon

—Wa

Di atas sofa cokelat yang kulitnya sudah retak-retak, duduk laki-laki dan perempuan. Yang perempuan duduk dengan tubuh menghadap jendela yang berada tepat di dinding, di belakang sofa. Kedua tangannya terlipat di sandaran sofa. Dagunya menumpu di atas punggung tangan. Lewat kaca jendela yang sengaja ditutup, matanya menatap sesuatu yang entah apa di luar sana.

Di luar mendung. Angin menggoyang-goyangkan batang asam. Tak ada sesiapa pun yang lalu di depan rumah bahkan pedagang baso keliling. Sepi.

Laki-laki itu duduk menghadap perempuannya. Kaki kanannya diam dengan posisi jinjit di atas ubin, sedang kaki kirinya berada di atas sofa dengan posisi terlipat membentuk segitiga di antara tubuhnya dan tubuh perempuan itu. Mata laki-laki itu iri pada sesuatu yang entah apa yang telah mencuri perhatian perempuannya.

Perempuan itu masih asyik dengan penglihatannya.

“Sebaiknya aku potong rambut.” Kata perempuan tiba-tiba.

Laki-laki tidak bergeming, namun matanya seperti setetes air di sehelai benang yang menyusuri tiap helai rambut yang cokelat dan tipis itu. Rambut perempuan yang sedari tadi tak lepas dari pandangan mata layunya.

Laki-laki menunggu perempuan meneruskan perkataannya.

Perempuan memutar torso.

Mereka berhadapan.

Mata perempuan mengisyaratkan ketidaksukaannya pada orang yang sedari tadi duduk diam dan memperhatikannya tanpa menanggapi omongannya. Dada perempuan mengembang. “Kau sedang apa, Den?” Katanya sambil mendaratkan dagunya di pundak sandaran sofa.

Gerak tubuh laki-laki menggesek permukaan sofa. Mengusik sunyi yang dingin.

Kaki kirinya turun dari sofa. Tapak kaki kirinya tersengat ketika menyentuh ubin. Sekarang kaki kiri dan kaki kanannya berdiri sejajar.

Laki-laki itu diam lagi. Diperhatikannya perempuan itu lewat layar tivi yang tak jauh di hadapannya. “Kau sedang apa, Ting?” Kata laki-laki.

“Pertanyaan dibalas dengan jawaban, bukan dengan pertanyaan lagi.”

“Ya. Tapi apa yang kau tatap di luar sana?”

“Tidak. Aku tidak sedang menatap. Aku sedang menunggu.”

“Apa?” Kepala laki-laki bergerak, tak lebih sesenti, ke arah perempuan itu.

“Hujan.”

“Untuk apa?”

“Aku bosan mendung melulu.” Perempuan menguap. Ia berkejap-kejap untuk menyapu air dari matanya. Matanya meloncat ke atas, melihat langit.

Angin menderu bambu antena tivi.

Mata perempuan kembali ke tempat semula.

“Den.”

“Ya.”

“Sebelum gaji bulananmu terkuras, lebih baik kau ganti bambu antena tivi. Angin bisa saja merobohkannya.”

“Untuk apa. Kita jarang nonton tivi.”

“Ya.”

Laki-laki mendongak melihat bohlam. “Listrik juga sedang sering padam.”

“Sampai kapan, ya?”

“Entah. Mungkin sampai hujan benar-benar turun dan habis masanya.” Laki-laki mengangkat kaki dan melipat keduanya berhimpitan. “Kau tidak kedinginan, Ting?”

“Apa?”

“Kakimu. Angkat. Kasihan. Mungkin dia sedang kedinginan.”

“Bagaimana kau tahu? Aku sendiri tak tahu.”

“Ya ya.”

“Maksudmu?”

Perempuan memutar lehernya ke arah laki-laki. Sikut kanannya bertumpu di sandaran sofa untuk menahan berat badannya. Tapak tangannya menyangga pipi kanan. Diperhatikannya laki-laki itu lekat-lekat.

“Aku bilang ‘mungkin dia sedang kedinginan’.”

Kedua tangan perempuan terlipat di depan dada, di bawah payudaranya. Lalu ia berkata. “Mungkin. Hidupmu memang kemungkinan melulu.” Perempuan itu menumpukan dagunya di punggung sofa. Kaki kirinya masih diam di atas ubin. “Kalau kutanya apakah kau mencintaiku, pasti kau akan jawab mungkin aku mencintaimu.”

“Ting.” Tidak ada emosi dalam nada bicara laki-laki itu.

Senyap. Laki-laki melihat perempuan dari layar tivi. Perempuan masih gigih memperhatikan sesuatu yang entah apa di luar sana. Sesekali perempuan itu menguap.

“Dari tadi aku menunggu tanggapanmu soal rambutku.”

“Aku tidak banyak tahu soal rambut.”

“Aku tahu itu. Tapi kau bisa bicara, meski sepatah.”

“Ting…, rambutmu tidak pernah kupersoalkan.”

“Rambutmu sekalipun tidak jadi persoalan bagimu. Tapi persoalan bagiku.”

“Setelah sekian tahun.” Laki-laki menatap bayangan dirinya di layar tivi. Kepalanya tertunduk. Lidahnya menyapu bibirnya yang mengering. Kemudian ia angkat bicara. “Di mana persoalannya?”

“Di rambutmu. Cukur kek, apa kek!”

“Untuk apa?”

“Agar niatku tumbuh untuk sedikit memperhatikanmu.”

“Mungkin itu sebabnya kau menolak punya anak!”

Perempuan memejamkan mata. Dia memilih mendengar saja.

“Ting?”

“Bukan begitu, Ting?”

“Ya, mungkin begitu.” Mata perempuan masih terpejam.

Dada laki-laki itu bergetar. Ia mendongak. Matanya berkejap-kejap. Laki-laki menelan air liurnya. Ada suara dari tenggorokannya.

“Maukah kau mencukurkan rambutku?”

“Aku tahu model yang pas untukmu, tapi aku tidak bisa mencukur.” Perempuan melihat prihatin pada laki-lakinya.

“Apa yang kau bisa?”

“Cukur habis.”

“Kau suka?”

“Tidak juga.”

“Lalu aku harus bagaimana?”

“Aku tidak memintamu apa-apa, Den. Kau saja yang mencipta kemungkinan-kemungkinanmu sendiri.”

Suara guntur memundurkan wajah perempuan dari jendela. Batang asam bergoyang-goyang. Beberapa buah sebesar kepalan bayi membuat batang asam agak kewalahan mengendalikan tubuhnya. Bambu antena tivi bergoyang kian hebat.

“Kalau hujan turun, apa yang akan kau lakukan?” Punggung laki-laki bertemu sandaran sofa.

“Kutunggu kapan ia akan berhenti.”

“Lalu?”

“Aku akan ke salon.”

“Boleh aku ikut?”

Perempuan tersenyum tanpa memberi sekilas pandangan pada laki-laki.

Laki-laki membuka lipatan kakinya. Kaki kanan mendarat menjinjit di atas ubin, sedang kaki kiri terlipat membentuk segitiga di atas sofa. Tubuhnya berputar menghadap jendela menunggu hujan tiba dan menunggu hujan usai.

Irayati Tampubolon

Cikuda, 28 November 2006

Dimuat di Koran Tempo Minggu

21 Januari 2007

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s