Belum Tentu Betulan

Ini zaman tambah gila saja. Masa untuk masuk perguruan tinggi harus melewati tes wawancara. Seperti mau masuk kerja saja. Dan anehnya, pertanyaannya aneh. Tidak biasa. Di luar akal sehatku. Dan mungkin kalian juga akan berpikiran sama sepertiku.

Baiklah. Sebelum aku meneruskan ceritaku, biar kuperkenalkan dulu diriku ini. Namaku Naya. Usiaku tidak jauhlah dengan usia kalian. Aku, seperti yang bisa kalian lihat sendiri, adalah perempuan. Aku baru lulus dari sekolah menengah atas. Dan sekarang sedang dalam ta-hap me-ma-su-ki perguruan tinggi. Tapi be-lum pas-ti ja-di ma-ha-sis-wa seperti kalian ini.

Di tempatku, negeri bernama Indonesialanderkriahulahulahup, untuk masuk ke perguruan tinggi, tidak hanya harus lulus SPMB, tapi juga harus lulus tes wawancara.

(nyeletuk) Wawancara gilalah pokoknya.

Gini nih ceritanya. Aku duduk hampir setengah jam di ruang tunggu (duduk seperti sedang di depan ruang praktik dokter gigi. Agak gelisah.) Barulah kemudian petugas berbaju mirip perawat rumah sakit memanggil namaku untuk masuk ke sebuah ruangan yang di pintunya ada tulisan, “Anda belum tentu jadi mahasiswa betulan!” (seperti membaca di pintu betulan dengan tangan mengeja di awang-awangàmengeja dengan perlahan). Tulisan itu seperti sengaja ditulis besar-besar.

Gila kan? Tulisan semacam itu hanya akan mematahkan semangat. Dan betul, mentalku segera goyah. Tulisan itu jadi semacam peringatan bahwa aku ini sangat mungkin untuk gagal menjadi mahasiswa, seperti kalian.

Aku masuk. Di balik meja, duduk seorang perempuan paruh baya. Wajahnya keras dan tatapannya licik. Bingkai kacamatanya pudar, tapi kacanya bersih dari bercak.

Kubaca papan namanya. Meri.

Singkat sekaligus mengerikan. Tidak ada embel-embel gelar. Hanya Meri.

Ia mempersilakanku duduk. Ia menatapku begini (menajamkan mata ke arah penonton). Tajam dan lama. Dan rasa-rasanya aku bakal kencing di celana.

(masih menatap tajam dan lama ke arah penonton) “Untuk apa Anda melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi?”

(heboh!) Gila! Dahsyat. Tanpa basa-basi. Tanpa bertanya nama atau asalku, ia langsung bertanya (menirukan gaya bicara Meri yang kaku dan sok galak) untuk apa Anda melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi. Aku kaget dan kencingku keluar sedikit. Celanaku agak basah.

Karena aku diam seperti orang tercekik, ia bertanya lagi. “Apa tujuan Anda melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi?” Wajahnya puas melihatku bagai pengecut.

Kujawab saja, “Saya ingin menambah pengetahuan saya.”

(menggebrak meja) “Salah! Kalau hanya untuk menambah pengetahuan tidak perlu masuk perguruan tinggi. Cukup banyak membaca dan ikut berbagai diskusi. Kuliah untuk menambah pengetahuan adalah sia-sia! Percuma!”

Sumpah. Sumpaaaahhhh!! Aku kaget minta ampun. Kencingku keluar lebih banyak. Untung bukan berak yang keluar. (sambil menghela nafas dan mengurut dada) Ya, Tuhaaan…. Aku bahkan butuh beberapa saat untuk menenangkan diri (mengibas-ibaskan tangan di sekitar leher) Lalu kutambahi jawabanku. Begini, (menirukan gaya orang duduk dengan tegang) “Ya, itu salah satunya. Lainnya, dengan kuliah saya bisa mengenal banyak orang, banyak berteman dan melihat karakter orang.”

(menggebrak meja lagi. Kali ini lebih kencang.) “(berteriak) Bullshit! (berbisik) Kalau itu tujuan Anda, berarti Anda hanya buang-buang tenaga karena kawan bisa Anda dapat di mana saja. Silakan nongkrong di pinggir jalan atau di gerbang kampus untuk mendapat kawan, dan perhatikan gelagat orang-orang untuk membaca karakter mereka. Itu tidak perlu kuliah!”

Aku bingung. Sebenarnya ia ingin mendengar jawabanku atau ia ingin aku menebak isi pikirannya? Jangan-jangan tes wawancara ini lelucon belaka. Jangan-jangan justru tes wawancara ini yang buang-buang tenagaku.

Ia menyuruhku untuk berpikir dengan sungguh-sungguh. Ia bahkan mengancamku apa aku ingin kuliah atau tidak. Semuanya bergantung jawabanku.

Lalu, seperti tersihir, aku menurut. Aku berpikir sejenak lalu berkata, “Saya kuliah karena dengan kuliah saya jadi sarjana dan lebih mudah mendapatkan pekerjaan.”

Mendengar jawabanku, kulihat wajahnya agak tenang. Ia tidak lagi menggebrak meja. Aku benar-benar lega. Fuhh….

(licik) “Siapa bilang Anda bisa jadi sarjana? Kami bisa saja mengeluarkan Anda di tengah jalan, bahkan tanpa alasan. Dan Anda pikir Anda bisa langsung mendapat pekerjaan dengan gelar sarjana Anda itu? (menggebrak meja) Tolol!”

Tolol katanya?? Aku rasanya ingin marah. Rasa-rasanya aku ingin mendamprat wajah perempuan paruh baya itu. Perempuan tua!

Aku ini tersinggungngng. Dia menyebutku tolol.

Tolol? Ia menghinaku.

Ia menghinaku! Kalian mengerti kan perasaanku? Mengerti tidak? Aku bertanya…. (jeda agak lama) Hhh. Atau jangan-jangan aku ini memang tolol? Tapi tidak. Pasti tidak. Buktinya, aku lulus SPMB.

“Anda memang tolol (menunjuk ke salah satu penonton)!” katanya lagi. Aku diam saja. Hatiku berantakan. Aku ingin menatapnya dengan tajam, tapi tatapannya jauh lebih tajam. Entah dengan apa ia mengasah matanya hingga jadi tajam begitu.

(masih menunjuk ke salah satu penonton tadi) “Anda belum layak jadi mahasiswa.” Katanya.

“Mengapa?”

“Mengapa bertanya mengapa?” katanya.

“Saya ingin tahu, di mana letak dasar saya belum layak jadi mahasiswa?”

(kepada penonton) Kalau saja kalian melihat wajahku pada saat itu, kalian akan tahu betapa marahnya aku. Betapa aku ingin meledak dan terbakarrrrr (mirip king kong) AAArrrggg…!

Lalu si Meri itu, si perempuan paruh baya yang sebenarnya berwajah tua bangka itu, berkata, “Anda terlalu banyak menuntut.”

“Menuntut?” (kepada penonton) Menuntut katanya? Apa yang kutuntut? Aku lanjutkan omonganku, “Bukankah itu salah satu ciri mahasiswa: banyak menuntut.”

“Tolol. Anda lebih cocok jadi demonstran, bukan mahasiswa. Dan kalau, jika, seandainya Anda jadi mahasiswa, maka Anda hanyalah mahasiswa tolol. Goblok dan dungu! Dan kampus ini tidak menerima mahasiswa goblok seperti Anda”

“What??” Kugebrak meja.

“Dan sayangnya, Anda adalah calon demonstran yang ganas. Itu berbahaya. Selain itu, bahasa Inggris Anda tidak mantap.”

Sial betul! (mengepalkan kedua tangan)

Aaa…. Berakku keluar sedikit.

Lalu tanpa dipersilakan, aku keluar lalu menggebrak pintu hingga pintu itu copot. Gedubrakkkk! Awalnya aku kaget. Namun akhirnya aku puas. PUAAAASSSH, karena membanting pintu bagiku sama dengan mendamprat wajah perempuan tua itu. Aku juga puas karena akhirnya aku bisa berak dan kencing pada tempatnya. Bukan di celana.

Jakarta, 31 Juli 08

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s